Praktek Kerja

III PELAKSANAAN KEGIATAN
3.1 Tempat dan Waktu
Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini dilaksanakan di PT. LUWES Food Industries SRAGEN, Jawa Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 20 Januari hingga 15 Pebruari 2014.
3.2 Metode Kerja
Dalam melaksanakan PKL ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2011).
3.3 Metode Pengumpulan Data
Pada kegiatan PKL ini, data yang diambil ada dua jenis yakni data primer dan data sekunder.
3.3.1 Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini subyek (orang) secara individu atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik) dan partisipasi aktif. Kelebihan penggunaan sumber data primer adalah peneliti dapat mengumpulkan data sesuai dengan yang diinginkan karena data yang tidak relevan dapat dieliminasi atau setidaknya dikurangi (Nazir, 2011).
A. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan pertanyaan secara lisan kepada sumber. Teknik wawancara dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu melalui tatap muka atau melalui telepon (Sangadji dan Sopiah, 2010). Wawancara pada praktek kerja lapang ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang sejarah pendirian perusahaan, struktur organisasi, ketenagakerjaan perusahaan, pemasaran, teknik pengalengan ikan sarden dan hambatan yang dihadapi dalam proses pengalengan ikan di PT. LUWES Food Industries.
B. Observasi
Observasi adalah proses pencatatan pola perilaku subyek, obyek atau kejadian yang sistematis tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan yang diteliti (Sangadji dan Sopiah, 2010). Pada kegiatan praktek kerja lapang ini, observasi dilakukan pada proses kedatangan bahan baku, penyimpanan ikan di dalam cold storage, pemotongan ikan, pencucian, pengisian dalam kaleng, penimbangan, pemasakan awal ikan, pengisian saus tomat, penutupan kaleng, sterilisasi kaleng, pemberian label pada kaleng dan karton, pengemasan, penyimpanan, pengelolaan water treatment serta sarana prasarana perusahaan.

C. Partisipasi Aktif
Partispasi aktif dilakukan dengan berpartisipasi didalam berbagai situasi dan berperan aktif didalamnya (Nazir, 2011). Partisipasi aktif yang dilakukan pada kegiatan pengalengan ikan sarden ini meliputi kegiatan pemotongan ikan, pencucian, pengisian dalam kaleng, penimbangan, pemberian label pada kaleng dan karton, sortasi kaleng penyok dan pengemasan.
3.3.2 Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara. Data sekunder yang didapatkan pada praktek kerja lapang ini berupa dokumentasi, majalah, koran, buku catatan atau laporan yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan (Sangadji dan Sopiah, 2010). Data sekunder yang didapatkan berupa struktur organisasi perusahaan, tata letak bangunan, dokumentasi peralatan dan proses pengalengan, sertifikat ISO, HACCP, GMP dan MUI.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang
4.1.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
PT. LUWES Food Industries merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) murni dan salah satu perusahaan dibawah naungan LUWES Group. Pada mulanya, PT. LUWES Food Industries ini bernama PT. Bali LUWES Permai SRAGEN yang didirikan pada tanggal 26 Juni 1979. PT. Bali LUWES Permai SRAGEN ini merupakan cabang dari PT. Bali LUWES Permai yang terletak di Desa Tegal Badeng, Kecamatan Negara, Kabupaten Tabalin, Bali. PT. Bali LUWES Permai SRAGEN dimiliki oleh Soekardjo Wibowo, Soekardi Wibowo dan Baswan yang ketiganya orang Indonesia serta Mr. Chang yang berasal dari Singapura. PT. Bali LUWES Permai SRAGEN merupakan perusahaan swasta nasional dan berbadan hukum perseroan terbatas. Operasi percobaan PT. Bali LUWES Permai SRAGEN dimulai pada bulan September 1981 berdasarkan izin TK II No. 53547 yang ditetapkan tanggal 2 Mei 1981 oleh Walikota SRAGEN. Perusahaan menghasilkan produk pertama dan mulai dipasarkan pada bulan April 1982 dibawah pimpinan Bapak Ir. Hasdi Prawira.
Pada tahun 1995, PT. Bali LUWES Permai SRAGEN hampir mengalami kebangkrutan karena krisis ekonomi. Dalam kondisi demikian, perusahaan menjual seluruh saham perusahaan pada Mr. Chang. Perusahaan ini kemudian tergabung dalam Perusahaan LUWES Food Government yang berpusat di Singapura dan merupakan Member of LUWES Group. Setelah saham PT. Bali LUWES Permai SRAGEN dijual, namanya diubah menjadi PT. LUWES Food Industries yang resmi berdiri pada tahun 1995 dengan Akte Pendirian No: 236 tanggal 16 November dihadapan Notaris Misahardi Wilamarta S.H berkedudukan di Jakarta dan Akte Cabang No: 36 tanggal 10 April 1996 dihadapan Notaris Issudariyah Andi Mualim S.H berkedudukan di SRAGEN.
PT. LUWES Food Industries SRAGEN awalnya merupakan cabang perusahaan produksi terutama untuk merek Botan yang mendapatkan lisensi dari Mitsui Co. Ltd Jepang. Pemasaran produk dilakukan oleh PT. Indo LUWES Mas Jakarta sebagai distributor untuk pasar dalam negeri dan Wayan SDN BHD yang terletak di Malaysia sebagai distributor untuk pasar luar negeri. Namun, perusahaan ini akhirnya diberikan kuasa sebagai perusahaan yang juga melakukan pemasaran untuk merek asli dari PT. LUWES Food Industries seperti Ranesa dan Sesibon. PT. LUWES Food Industries bekerjasama dengan supplier yang membantu dalam penyediaan bahan baku, baik dari dalam maupun luar negeri. Perusahaan ini juga bekerjasama dengan buyers atau pemesan dalam hal penjualan, dimana kegiatan produksi suatu jenis merek tertentu ditentukan oleh permintaan buyers atau pemesan seperti merek Polo Star, Alam Indo, Janus dan sebagainya.
4.1.2 Keadaan Topografi dan Geografi
PT. LUWES Food Industries terletak di Kota SRAGEN, tepatnya berada di Jalan Jlamprang, Kelurahan Krapyak Lor, Kecamatan SRAGEN Utara, SRAGEN 51149, Jawa Tengah. Terletak sekitar lima kilometer di sebelah utara Kota SRAGEN. Perusahaan tersebut didirikan di atas tanah seluas 23.000 m2 dengan luas bangunan sekitar 5.100 m2. Selain itu, perusahaan ini berdekatan dengan pantai Slamaran dan pemukiman penduduk. Adapun secara geografis letak PT. LUWES Food Industries pada bagian utara berhadapan langsung dengan Pantai Utara Laut Jawa, bagian timur terdapat Sungai Banger, bagian Selatan bersebelahan dengan Desa Klego, dan di bagian Barat di batasi oleh Sungai SRAGEN yang mengalir menuju ke Pantai Utara. Selain perusahaan berada di dekat pusat kota, perusahaan ini juga terletak dekat dengan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) SRAGEN.
Terdapat keuntungan dari letak perusahaan tersebut, diantaranya perusahaan yang terletak di sekitar pemukiman warga memudahkan untuk mencari tenaga kerja musiman dan borongan. Tenaga kerja ini dibutuhkan saat kegiatan produksi sedang tinggi dan membutuhkan tenaga kerja yang banyak untuk mempercepat proses produksi. Letak perusahaan yang dekat dengan pusat kota ini memudahkan dalam mobilisasi baik kontainer yang memasok bahan baku maupun kontainer yang membawa produk untuk dipasarkan. Selain itu, perusahaan yang dekat dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di PPN SRAGEN mempermudah dalam menyediakan bahan baku ikan lokal sehingga menekan biaya produksi dari segi transportasi, serta ikan masih dalam keadaan segar.
4.1.3 Sarana dan Prasarana Perusahaan
Dengan luas bangunan perusahaan 5.100 m2, PT. LUWES Food Industries memiliki beberapa gedung dengan fungsi yang berbeda, antara lain kantor utama PT. LUWES Food Industries, kantor administrasi, bengkel pabrik, ruang listrik, gedung pengemasan, gedung kegiatan produksi pengalengan ikan, gedung penyimpanan bahan baku, gedung penyimpanan bahan tambahan, gudang penyimpanan produk akhir, area Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), gedung pengolahan surimi, gedung pengolahan bakso ikan, laboratorium, gedung peralatan, mushola, koperasi karyawan, toilet, tempat parkir, pos jaga, mess tamu dan sebagainya. Tata letak dan denah unit produksi dapat dilihat pada Lampiran 1.
4.2 Manajemen Perusahaan
4.2.1 Visi dan Misi Perusahaan
PT. LUWES Food Industries SRAGEN mempunyai visi yaitu “Menjadi perusahaan terdepan dalam pengolahan produk perikanan, berbasis pengalengan ikan dan surimi, berskala internasional dengan mengutamakan produk pengolahan ikan dengan kualitas tinggi guna kepuasaan pelanggan.”
Untuk dapat mendukung visi perusahaan tersebut, PT. LUWES Food Industries SRAGEN memiliki misi yaitu :
  1. Memperluas pasar dan mitra kerja global.
  2. Mengembangkan produk untuk menarik minat pasar.
  3. Memberikan produk yang berkualitas kepada konsumen.
4.2.2 Tujuan Perusahaan
Pada umumnya setiap perusahaan memiliki tujuan dalam setiap pendiriannya, tujuan ini terdiri dari tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang berorientasi untuk mendapatkan keuntungan atau laba (Saliman, 2005). Penentuan tujuan ini termasuk kedalam formulasi strategi dan penting untuk mengikat organisasi terhadap produk, pasar, sumber daya dan teknologi yang spesifik untuk periode waktu yang panjang (David, 2004). Tujuan perusahaan jangka pendek umumnya adalah mencapai laba maksimal dan berkesinambungan, agar perusahaan bisa tetap tumbuh dan tetap beroperasi (Sarika, 2009). Adapun tujuan jangka pendek PT. LUWES Food Industries ini terdiri dari :
  1. Meningkatkan volume penjualan.
  2. Mendapatkan keuntungan yang optimal.
Untuk tujuan jangka panjang yaitu memaksimalkan nilai perusahaan sehingga dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dan para pemegang saham lainnya (Sarika, 2009). Adapun tujuan jangka panjang yang ingin dicapai oleh PT. LUWES Food Industries yaitu :
  1. Mengadakan perluasan pabrik dan pemasaran.
  2. Menjaga kontinyuitas perusahaan.
Tujuan perusahaan ini rutin dilakukan evaluasi yang merupakan tahap akhir dari manajemen strategis (David, 2004). Tujuan jangka pendek PT. LUWES Food Industries dievaluasi setiap tiga bulan sekali sedangkan tujuan jangka panjang dievaluasi setiap setahun sekali. Menurut Kaurvaki (2012), tujuan evaluasi perusahaan adalah untuk menjamin pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan serta untuk mengetahui posisi perusahaan dan tingkat pencapaian sasaran perusahaan, terutama untuk mengetahui bila terjadi keterlambatan atau penyimpangan agar dapat segera diperbaiki, sehingga sasaran atau tujuan dapat tercapai.
4.2.3 Struktur Organisasi
PT. LUWES Food Industries memiliki struktur organisasi sederhana yang terdiri dari 3 tingkatan yaitu tingkatan korporat, fungsional dan operasional, yang merupakan struktur organisasi pada perusahaan kecil (David, 2006). Meski perusahaan memiliki kapasitas produksi yang besar namun dalam pelaksanaan di lapangan tidak dibutuhkan banyak tingkatan organisasi, sehingga kerja dari masing-masing departemen lebih efektif dan dapat menghemat biaya operasional untuk gaji karyawan. Perusahaan dipimpin oleh managing director dan dibawahnya terdapat departemen yang dipegang oleh manajer. Manajer memiliki kewenangan untuk mengatur tugas operasional yang terdapat didalam departemennya. Struktur organisasi yang demikian, menurut Mayowan (2012) kekuasaan dan tanggung jawab mengalir langsung secara vertikal dari manajemen puncak sampai pada setiap orang yang berada pada jabatan terendah dan masing-masing dihubungkan oleh garis perintah dan pelaporan, sistem ini disebut sistem organisasi berbentuk garis. Struktur organisasi pada PT. LUWES Food Industries dapat dilihat pada Lampiran 2.
Sistem organisasi berbentuk garis ini adalah yang paling praktis karena hubungan antara atasan dan bawahan bersifat langsung melalui garis perintah. Pimpinan dan karyawan saling mengenal dan dapat berhubungan setiap hari. Masing-masing kepala departemen mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh atas segala bidang pekerjaan baik pokok maupun tambahan yang ada dalam departemennya, dengan pucuk pimpinan sebagai sumber kekuasaan tunggal (Mayowan, 2012).
Terdapat keuntungan digunakannya sistem organisasi berbentuk garis ini antara lain rantai perintah dan pelaporan yang tegas dan jelas, keputusan dapat diambil dengan cepat karena manajer punya kewenangan memantau pekerjaan bawahan, koordinasi mudah dilaksanakan, rasa solidaritas para karyawan tinggi karena saling mengenal. Sedangkan kelemahan sistem garis ini yaitu manajer harus menerima tanggung jawab lengkap atas sejumlah bidang tugas yang mungkin tidak memiliki keahlian untuk itu, ada kecenderungan pimpinan untuk bertindak otoriter, organisasi secara keseluruhan terlalu bergantung pada satu orang dan kesempatan karyawan untuk berkembang terbatas (Mayowan, 2012).
PT. LUWES Food Industries terdiri dari 10 departemen utama (top management) yang langsung dibawah pimpinan yang disebut managing director (MD) atau sama dengan CEO. Managing director PT. LUWES Food Industries sebagai pimpinan perusahaan mewakili pemilik saham untuk mengendalikan aktivitas internal perusahaan, mengkoordinasikan semua unsur-unsur yang ada di dalam perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagai wakil dari perusahaan dalam hal berhubungan dengan pihak luar serta bertanggung jawab pada dewan komisaris. Adapun tugas setiap departemen antara lain :
  1. Pemasaran (Marketing)
Departemen ini bertugas untuk menjalin komunikasi dengan calon pemesan dan melakukan negosiasi awal seperti melakukan kontrak kerja dan mendiskusikan spesifikasi pesanan. Selain itu apabila produk yang dipesan telah menjadi produk jadi, maka departemen ini kembali menghubungi pemesan dan melakukan proses pembayaran atas produk yang telah dipesan dan memastikan produk diterima oleh pemesan. Sedangkan untuk produk yang menggunakan merek asli dari PT. LUWES Food Industries maka bagian pemasaran langsung berhubungan dengan para distributor yang akan memasarkan produk tersebut. Departemen pemasaran melakukan kegiatan pemasaran untuk pasar lokal dan ekspor.
  1. PPIC (Program and Planning Inventory Control)
PPIC memiliki tugas untuk melakukan perencanaan produksi antara lain pengadaan bahan baku dan bahan tambahan yang akan digunakan, merencanakan jumlah produksi, waktu produksi dan pengalokasian sumber daya manusia untuk memenuhi permintaan pemesan. PPIC juga dapat memeriksa stok barang dan mencatat pada kartu stok, mengatur barang yang berada di gudang serta memeriksa seluruh barang-barang yang masuk dan keluar.
  1. QC (Quality Control)
Departemen quality control ini melakukan kegiatan pengawasan terhadap mutu bahan baku, produk yang masih dalam proses produksi dan juga pengawasan terhadap produk jadi. Manajer QC bertanggung jawab untuk menjalankan sistem keamanan kualitas produk dengan standar dan prosedur ISO (International Organization for Standardization), HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), dan GMP (Good Manufacturing Practice) serta apabila terjadi suatu masalah pada produk di pasaran maka dilakukan kegiatan investigasi untuk kemudian melakukan proses penarikan produk dari pasaran. Departemen QC juga dapat mengawasi kinerja para pekerja serta mengawasi sanitasi karyawan dan perusahaan. Hal tersebut dilakukan untuk menjamin kualitas produk sehingga tetap memenuhi standar yang telah ditentukan.

  1. Pembelian (Purchasing)
Departemen purchasing memiliki tugas untuk mengoordinasikan permintaan kebutuhan barang dari masing-masing departemen dan memastikan semua kebutuhan produksi tersedia sehingga tidak menghambat proses produksi, melaksanakan tugas pembelian bahan baku dan material, serta berkomunikasi dengan departemen marketing untuk memenuhi pesanan pelanggan. Departemen purchasing juga bertugas melakukan dan menerima klaim jika pesanan tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
  1. Produksi MS (Mackerel Sardines)
Departemen MS bertugas untuk melakukan proses produksi ikan kaleng. Manajer MS bertanggung jawab mengkoordinasikan aktivitas produksi secara internal maupun eksternal, memastikan pelaksanaan produksi berjalan dengan baik sesuai prosedur yang telah ditetapkan, serta melakukan pengawasan dan evaluasi jalannya produksi.
  1. Produksi Surimi
Departemen surimi ini memiliki tugas untuk memproduksi surimi, mengawasi seluruh proses dibagian surimi, mengontrol bahan-bahan yang akan digunakan untuk produksi surimi, serta mengkoordinasikan seluruh karyawan.
  1. VAP (Value Added Product)
Tugas departemen VAP adalah untuk memproduksi bakso ikan, otak-otak, fish stick, scallops, kepiting kaleng dan sebagainya yang bukan produk utama melainkan produk tambahan yang hanya diproduksi bila terdapat permintaan oleh pemesan. Sehingga produksi produk-produk tersebut setiap bulannya tidak selalu ada. Agar menjadi efektif dalam struktur oganisasi maka departemen ini dipimpin oleh manajer yang sama dengan departemen surimi.
  1. ME (Mechanic and Electric)
Departemen ME bertugas untuk memperbaiki mesin-mesin produksi, mengatur kelistrikan, menjaga ketersediaan seluruh daya yang digunakan, bertanggung jawab atas pasokan daya listrik, serta mengoperasikan seluruh sistem yang ada di perusahaan. Dalam setiap departemen produksi memiliki beberapa orang ME yang turut bekerja didalamnya. Tugas ME didalam bagian produksi adalah untuk melakukan perawatan dan perbaikan terhadap mesin-mesin yang digunakan untuk produksi, hal ini untuk mencegah kerusakan yang nantinya dapat mengganggu proses produksi.
  1. Keuangan (Finance)
Departemen ini berfungsi untuk pengatur arus kas perusahaan. Dalam hal ini semua departemen lain berhubungan langsung dengan departemen ini terutama dalam melakukan pembelian bahan baku, pembayaran gaji karyawan dan biaya-biaya lain serta menerima pembayaran dari pihak pemesan.
  1. HRD (Human Resources and Development)
HRD secara umum bertugas untuk mengatur semua hal yang menyangkut kesejahteraan karyawan dan memiliki lingkup tugas untuk mengelola dan mengevaluasi seluruh karyawan dalam perusahaan. HRD juga terfokus pada dua bagian yang masing-masing dikoordinir oleh kepala bagian yaitu bagian personalia dan bagian training. Manajemen personalia bertugas dalam rekrutmen karyawan dan mengurusi karyawan secara keseluruhan termasuk securitytransport dan service office. Sedangkan manajemen training bertugas untuk meningkatkan kualitas karyawan dengan mengadakan training bagi karyawan baru atau lama.
Pada struktur organisasi PT. LUWES Food Industries diketahui terdapat beberapa orang yang sama memegang jabatan yang berbeda seperti Bapak Jones H. Simbolon memegang bagian pemasaran dan HRD, Bapak Eko Setyadi yang menjabat sebagai manajer pada produksi MS dan PPIC, serta Bapak Chandra Aciu yang merupakan managing director PT. LUWES Food Industries menjabat pula sebagai manajer purchasing, produksi surimi, VAP dan mekanik elektrik. Adanya jabatan ganda ini untuk menghemat cost atau biaya operasional gaji karyawan perusahaan karena terdapat beberapa departemen yang tidak selalu beroperasi setiap bulannya. Keuntungan dengan sistem jabatan ganda ini dapat menghemat gaji karyawan namun kelemahannya yaitu dengan orang yang sama pada bidang yang berbeda maka dikhawatirkan setiap departemen tersebut tidak dikelola secara optimal.
4.2.4 Ketenagakerjaan
Tenaga kerja merupakan unsur yang penting dalam pelaksanaan kegiatan produksi. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pengalengan ikan ini berbentuk padat karya yang membutuhkan jumlah karyawan banyak terutama pada bagian pemotongan, pembersihan dan pengisian sehingga dapat memenuhi permintaan pasar maupun pemesan dengan tepat waktu. PT. LUWES Food Industries memiliki jumlah karyawan sebanyak 621 orang yang berasal dari daerah disekitar SRAGEN dan Batang. Adapun rincian tenaga kerja pada PT. LUWES Food Industries terdapat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah karyawan PT. LUWES Food Industries
No.
Jenis Karyawan
Jumlah
Total
Laki-laki
Perempuan
1.
Karyawan Tetap (Bulanan)
36
16
52
2.
Karyawan Kontrak
73
17
90
3.
Karyawan Musiman
7
441
448
4.
Karyawan Borongan
20
11
31
Total
136
485
621
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
Terdapat adanya perbedaan status karyawan berdasarkan pada sistem pemberian gaji atau upah yang diberikan dan kegiatan yang dilakukan berdasarkan produksi perusahaan. Adapun secara spesifik perbedaan pada empat jenis karyawan tersebut antara lain :
  1. Karyawan Tetap atau Bulanan
Merupakan karyawan yang diberikan gaji setiap bulan dan tetap bekerja meski proses produksi tidak sedang berjalan. Orang yang bekerja sebagai karyawan tetap biasanya pada bagian kantor seperti HRD, administrasi, pemasaran, keuangan, dan sebagainya.


  1. Karyawan Kontrak
Merupakan karyawan yang dikontrak oleh perusahaan untuk bekerja dalam jangka waktu tertentu (biasanya 6-12 bulan). Apabila masa kontrak telah habis, karyawan tersebut dapat diberhentikan. Namun apabila karyawan tersebut dinilai berprestasi maka dapat diusulkan untuk menjadi pegawai tetap atau diperpanjang masa kerjanya oleh departemen yang bersangkutan. Gaji yang diberikan oleh karyawan tersebut setiap satu bulan sekali.
  1. Karyawan Musiman
Merupakan karyawan yang bekerja sebagai tenaga inti produksi namun status kerjanya tidak tetap. Karyawan musiman ini dibutuhkan apabila terdapat produksi pada unit departemen tertentu, dengan jumlah paling banyak pada departemen MS. Karyawan ini dapat berasal dari dalam maupun dari luar Kota SRAGEN. Sistem penggajian diberikan oleh perusahaan setiap satu minggu sekali.
  1. Karyawan Borongan
Merupakan karyawan dengan status kepegawaian yang tidak tetap. Karyawan ini dipekerjakan apabila perusahaan sedang produksi dan mendapat upah sesuai dengan volume atau bahan yang telah dikerjakan. Upah karyawan ini dibayarkan setiap satu minggu sekali.
Hari kerja yang ditetapkan oleh perusahaan untuk karyawan tetap dan kontrak yaitu dengan enam hari kerja, dimulai dari hari Senin sampai dengan Sabtu. Waktu kerja untuk hari Senin sampai Kamis dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB kemudian waktu istirahat selama satu jam dan dilanjutkan kembali pada pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB. Untuk hari Jumat, istirahat diperpanjang setengah jam mulai pukul 11.30 WIB sampai pukul 13.00 WIB. Dan untuk hari Sabtu jam kerja lebih pendek dimulai dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 14.30 WIB dengan waktu istirahat yang sama dengan hari Senin sampai hari Kamis. Sedangkan untuk karyawan musiman dan borongan dibagi menjadi tiga shift waktu kerja. Shift 1 dari pukul 07.00-15.00 WIB, shift 2 dari pukul 08.00-16.00 WIB, dan shift 3 dari pukul 10.00-18.00 WIB. Untuk kesejahteraan karyawan maka perusahaan memberikan tunjangan hari raya (THR), cuti, hari libur, jaminan sosial tenaga kerja (JAMSOSTEK), upah lembur, dan sebagainya.
Jumlah karyawan di PT. LUWES Food Industries setiap tahunnya tidak selalu sama, hal ini dikarenakan produksi yang dilakukan juga tidak sama. Fluktuasi jumlah karyawan terutama karyawan musiman dan borongan ini bergantung pada permintaan konsumen atau pemesan terhadap suatu produk terutama sarden atau makarel kaleng dan tersedianya stok bahan baku ikan yang akan diolah. Bila perusahaan tidak sedang produksi maka perusahaan akan relatif sepi, begitu pula sebaliknya.
4.2.5 Spesifikasi Produk
Perusahaan PT. LUWES Food Industries dalam produksi rutinnya menghasilkan produk sarden dan makarel kaleng dengan berbagai brand, ukuran dan rasa yang berbeda. Produk sarden dan makarel yang menggunakan nama PT. LUWES Food Industries sebagai produsen adalah Ranesa dan Sesibon. Sedangkan produk yang merupakan kerjasama PT. LUWES Food Industries dengan Mitsui Co. Ltd Jepang yaitu merek Botan. Merek lainnya seperti Janus, Polo Star, Alam Indo, Pomo, Grino, Tantan, Maroc, Continental Blue merupakan merek yang menggunakan nama perusahaan pemesan sebagai produsennya, baik dari dalam maupun luar negeri. Semua produk pengalengan ikan yang diproduksi oleh PT. LUWES Food Industries sudah mendapatkan sertifikat halal dari LP-POM MUI dengan No. 00030010810999. PT. LUWES Food Industries juga telah mendapatkan Sertifikat Kelayakan Pengolahan dari Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan No. 1157/33/SKP/KL/IV/2013 yang akan ditinjau setiap dua tahun sekali. Sertifikat lain yaitu sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008. Sertifikat Majelis Ulama Indonesia (MUI), GMP dan ISO terdapat pada Lampiran 3.
PT. LUWES Food Industries tidak hanya memproduksi sarden dan makarel kaleng, namun dapat juga memproduksi berbagai jenis olahan dari ikan seperti surimi, bakso ikan, scallops, otak-otak, fish stick, kepiting kaleng dan sebagainya. Namun untuk produk-produk tersebut jarang diproduksi karena hanya memproduksi bila ada pesanan saja. Perusahaan ini belum memproduksi produk tersebut dengan nama PT. LUWES Food Industries dan dipasarkan secara luas karena perusahaan menganggap produk tersebut dinilai lebih sepi konsumennya dan lebih banyak pesaingnya dibanding sarden dan makarel kaleng. Tidak ada merek dagang khusus yang diberikan oleh PT. LUWES Food Industries pada produk surimi karena surimi merupakan produk pesanan yang biasanya dipesan oleh perusahaan luar negeri yang juga dikemas dengan nama perusahaan pemesan.
Sarden dan makarel kaleng yang diproduksi oleh perusahaan ini terdiri dari tiga jenis kaleng yaitu kaleng 202 (kaleng ukuran kecil), kaleng 301 (kaleng ukuran besar) dan club can kaleng yang berbentuk datar horisontal. Kaleng ini digunakan berdasarkan merek produk yang telah ditentukan seperti merek Botan menggunakan kaleng 301 dan kaleng 202, sedangkan merek Pomo menggunakan kaleng tipe club can.
Gambar 3. Produk ikan sarden dan mackarel kaleng
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
Gambar 4. Produk tambahan PT. LUWES Food Industries
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
Dalam kegiatan operasional, perusahaan perlu melakukan strategi pemasaran sehingga perusahaan dapat tetap bertahan ditengah persaingan global yang semakin ketat. Strategi yang dapat digunakan terdiri dari strategi integrasi, strategi intensif, strategi diversifikasi dan strategi defensif (David, 2006). Strategi integrasi yang diterapkan dengan integrasi kedepan karena PT. LUWES Food Industries memiliki perusahaan pemasaran PT. Indo LUWES Mas yang berada di Jakarta sehingga dapat mengendalikan distribusi produk. Integrasi kedepan merupakan strategi yang menghendaki agar perusahaan mempunyai kemampuan yang besar terhadap pengendalian para distributor (David, 2006). Namun tidak dapat menerapkan strategi kebelakang karena perusahaan ini masih bergantung dengan supplier dalam memasok bahan baku. Integrasi kebelakang merupakan strategi untuk mencari kepemilikan atau meningkatkan kontrol atas pemasok perusahaan (David, 2006).
Strategi intensif dilakukan oleh PT. LUWES Food Industries dengan cara pengembangan pasar yaitu meningkatkan atau memodifikasi produk atau jasa yang ada sekarang atau dengan kata lain memperbaiki dan atau mengembangkan produk yang sudah ada (David, 2006). PT. LUWES Food Industries berencana akan memproduksi sarden merek Botan dengan rasa balado, asam manis dan teriyaki. Produk Botan akan dibuat dengan bahan-bahan yang lebih fresh. Strategi ini dilakukan untuk menarik minat konsumen dan memberi pilihan yang berbeda pada konsumen yang diharapkan nantinya mampu meningkatkan hasil penjualan perusahaan.
Dalam pemasaran, PT. LUWES Food Industries juga melakukan diversifikasi konsentrik dengan cara memproduksi surimi, bakso ikan, scallops, otak-otak, fish stick, kepiting kaleng, dan sebagainya. Produk-produk ini diproduksi berdasarkan permintaan pemesan dengan spesifikasi yang berbeda-beda. Meski tidak menggunakan nama PT. LUWES Food Industries pada label produk sebagai produsen, namun perusahaan akan tetap mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan dari pemesan produk tersebut. Menurut David (2006), diversifikasi konsentrik ini dapat dilaksanakan dengan cara menambah produk atau jasa yang baru tetapi masih berhubungan. Tujuan strategi ini untuk membuat produk baru yang berhubungan untuk pasar yang sama.
4.2.6 Kapasitas Produksi
Setiap unit produksi di PT. LUWES Food Industries memiliki kapasitas produksi yang berbeda-beda. Unit produksi pengalengan ikan memiliki kapasitas produksi yang tidak sama dengan unit produksi bakso ikan. Kapasitas produksi ikan kaleng belum tentu sama untuk setiap tahunnya. Perbedaan kapasitas produksi disebabkan permintaan dari konsumen atau pemesan dan stok bahan baku untuk produksi sarden dan makarel kaleng.
Unit pengalengan ikan sendiri memiliki kapasitas produksi sebesar 168.000 karton/tahun. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, selama ini target yang diterapkan perusahaan dapat tercapai, bahkan beberapa kali kapasitas produksinya melampaui target. Untuk produk selain sarden atau makarel kaleng, perusahaan tidak menetapkan standar kapasitas produksi karena produk yang lain hanya akan diproduksi apabila terdapat pesanan.
4.3 Peralatan Produksi
Untuk kegiatan pengalengan ikan, terdapat alat-alat yang digunakan dalam kegiatan operasional sehingga proses produksi perusahaan dapat berjalan lancar. Alat-alat yang digunakan antara lain :

  1. Pisau dan Talenan
Pisau berguna untuk memotong bagian kepala dan ekor ikan serta membagi tubuh ikan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan. Sedangkan fungsi talenan adalah sebagai alas tempat memotong ikan.
  1. Meja Pemotongan
Digunakan sebagai tempat pemotongan, pembersihan dan pengisian ikan kedalam kaleng. Meja potong yang digunakan di PT. LUWES Food Industries terdapat pipa-pipa saluran air untuk membantu proses thawing dan pencucian ikan. Perusahaan ini memiliki 60 buah meja dengan bentuk persegi panjang.
  1. Bak Plastik dan Keranjang
Bak plastik serta keranjang digunakan saat kegiatan produksi untuk meletakkan ikan yang akan dithawing, memindahkan ikan dari meja pemotongan ke bagian pengisian dalam kaleng.
  1. Timbangan
Digunakan untuk menimbang ikan dalam kaleng setelah proses filling apakah sesuai dengan berat yang seharusnya, apabila kurang akan ditambahkan dan begitu pula sebaliknya. PT. LUWES Food Industries memiliki 10 timbangan digital untuk memastikan isi kaleng yang telah berisi ikan.
  1. Conveyor
Conveyor digunakan untuk mempermudah pengaliran bahan atau kaleng secara otomatis dari suatu proses ke proses lainnya sehingga tidak perlu memindahkan barang secara manual yang dapat memperbesar resiko kontaminasi produk. Conveyor juga dapat mengalirkan limbah padat keluar ruang produksi.
  1. Exhaust Box
Exhaust box berfungsi untuk pemasakan awal (pre cooking) ikan dengan menggunakan uap panas. Kaleng-kaleng yang telah berisi ikan, dilewatkan menggunakan chain conveyor berjalan didalam exhaust box. Alat ini akan menvakumkan udara yang ada di dalam kaleng dengan suhu dan waktu yang telah ditentukan sesuai dengan jenis ikan dan produk yang sedang diproses.
Exhaust box yang digunakan pada perusahaan ini berjumlah empat buah yang terdiri dari dua exhaust box ukuran enam head (jenis kaleng silinder 202 x 308), dan lainnya ukuran empat head (jenis kaleng silinder 301 x 407). Kapasitas tiap unit exhaust box dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kapasitas exhaust box
Jenis
Kaleng
Berat Bersih
(gram)
Kapasitas Tiap Exhaust Box (Kaleng)
Unit 1
Unit 2
Unit 3
Unit 4
Silinder 202 x 308
155
2520
1680
2240
2240
Silinder 301 x 407
425
972
648
864
864
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
  1. Mesin Penghilang Sisik (Drum Rotary Washer)
Mesin ini berguna untuk menghilangkan sisik ikan terutama ikan yang berasal dari Laut Cina Selatan. Ikan beku dari Cina memiliki sisik yang cenderung tebal sehingga harus dihilangkan terlebih dahulu, biasanya ikan yang bertipe seperti ini yaitu ikan lemuru yang akan dijadikan produk sarden kaleng. Alat tersebut memiliki permukaan yang berlubang dan kasar sehingga ketika mesin berputar akan mengelupas sisik ikan. Mesin tersebut juga didesain memiliki sekat yang berputar sampai ujung sehingga ikan akan keluar dengan sendirinya. Mesin ini sekaligus dapat mencuci ikan dari kotoran yang masih melekat.
  1. Mesin Pembuat Saus
Mesin ini digunakan untuk memasak pasta saus, Modified Corn Starch (MCS), air dan garam menjadi satu hingga siap digunakan sebagai medium kaleng sekaligus pemberi rasa untuk produk. Mesin beroperasi dengan bantuan uap panas, serta memiliki prinsip kerja berdasarkan pengadukan dan pemindaian panas terhadap saus sehingga saus dapat tercampur rata. Perusahaan memiliki mesin pemasak saus sebanyak empat buah dengan kapasitas 750 liter.
  1. Alat Penutup Kaleng (Can Seamer)
Merupakan alat pengepres yang digunakan untuk menutup kaleng secara sempurna baik kaleng tipe 202, kaleng tipe 301 dan club can. Menggunakan tenaga listrik dan tekanan untuk dapat mengepres kaleng. Mesin ini mampu melakukan penutupan kaleng sebanyak 220 kaleng per menit. Cara kerja mesin ini dengan cara melipat bagian kaleng silinder dengan tutup yang masih berlebih, lipatan dilakukan lebih dari satu, hal ini berguna untuk lebih menjamin kaleng tidak mengalami kebocoran saat disterilisasi. Alat penutup kaleng yang dimiliki oleh PT. LUWES Food Industries sebanyak empat unit yaitu dua unit empat head yang digunakan untuk kaleng berukuran 202 x 308 dan 301 x 407, sedangkan sisanya enam head untuk kaleng berukuran 202 x 308 dan 301 x 407. Mesin penutup kaleng yang digunakan dari Taiwan dengan merek Shin-I. Adapun kapasitas mesin penutup kaleng tersaji pada Tabel 5.
Tabel 5. Kapasitas kaleng penutup kaleng (Can Seamer)
Jenis
Mesin
Jenis
Kaleng
Kapasitas
(kaleng/menit)
Seamer 4 head
Silinder 301 x 407
120 kaleng
Silinder 202 x 308
132 kaleng
Seamer 6 head
Silinder 301 x 407
164 kaleng
Silinder 202 x 308
186 kaleng
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
  1. Pencuci Kaleng (Can Washer)
Can washer merupakan alat yang berfungsi untuk mencuci kaleng setelah kaleng melalui proses penutupan, sehingga pada permukaan kaleng tidak terdapat sisa saus yang masih melekat. Cara kerja alat ini dengan kombinasi antara uap panas, air panas dengan suhu 70°C dan sabun keluar melalui pipa-pipa saat kaleng berjalan diatas conveyor. Kemudian kaleng keluar dari mesin dan dialirkan ke bak penampungan.
  1. Bak Penampung Kaleng
Bak ini didalamnya telah berisi air biasa serta keranjang besi (basket). Bak penampung kaleng berguna untuk mengumpulkan kaleng, mengurangi benturan dan gesekan antar kaleng, mengurangi tekanan yang ada didalam kaleng dengan air yang bersuhu normal. Basket yang telah terisi hampir penuh, kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam retort.

  1. Keranjang Besi (Basket)
Merupakan suatu keranjang berukuran besar yang berfungsi untuk mengumpulkan kaleng-kaleng dalam jumlah banyak, biasanya digunakan saat proses pencucian, sterilisasi dan inkubasi di dalam gudang.
  1. Alat Sterilisasi (Retort)
Retort adalah suatu bejana tempat produk yang dikalengkan, dilakukan proses sterilisasi dengan menggunakan tekanan uap (Adawyah, 2008). Alat sterilisasi produk ini memiliki tekanan tinggi yang berbentuk silinder horisontal, selain berfungsi untuk mensterilkan kaleng dari mikroorganisme patogen dan pembusuk juga dapat mematangkan produk dan melunakkan duri-durinya sehingga produk menjadi aman dan enak dikonsumsi. PT. LUWES Food Industries memiliki delapan retort dengan retort 1-4 mampu menampung tiga basket dalam satu kali proses sterilisasi sedangkan retort 5-8 menampung dua basket.
  1. Bak Pendingin
Bak pendingin ini berfungsi untuk menurunkan suhu panas pada produk setelah melalui proses sterilisasi dengan cara merendam pada air biasa (suhu sekitar 20°C). Basket berisi kaleng yang telah disterilisasi dimasukkan kedalam bak selama 15 menit, kemudian diangkat dan ditiriskan. Kapasitas bak pendingin ini sebanyak 4 basket.
  1. Printer Labelling
Alat ini digunakan untuk mencetak kode produksi, nomor batch, nama supplier kaleng, jenis ikan yang digunakan, serta tanggal kadaluarsa pada permukaan tutup kaleng. Cara kerja alat ini dengan cara kaleng dilewatkan melalui conveyor dan ketika kaleng menyentuh sensor mesin akan langsung mencetak. Alat berjalan secara otomatis dengan menggunakan sistem yang hanya perlu diatur satu kali penggunaan. PT. LUWES Food memiliki satu buah unit mesin pembuat kode produksi yang berada di ruang pengepakan.
  1. Pallet
Pallet berfungsi sebagai alas untuk menjaga produk maupun bahan pengemas dari kelembaban tinggi yang dapat merusak produk dan kemasan. Pallet juga mempermudah pemindahan ke tempat lain dengan cara diangkut menggunakan forklift.
  1. Katrol Mekanis
Katrol yang digunakan jenis semi otomatis karena masih dikendalikan oleh operator untuk bergerak dan berfungsi untuk mengangkat basket berisi kaleng yang telah ditutup sehingga mempermudah transportasi ikan dalam ruang produksi. PT. LUWES Food Industries memiliki lima buah katrol. Satu katrol digunakan untuk mengangkut keranjang dari bak penampung kaleng sementara, tiga buah berada dibagian retort, dan satu buah katrol yang berada diruang printing digunakan untuk mengangkut ikan kaleng yang sudah didinginkan.
  1. Cold Storage
PT. LUWES Food Industries memiliki cold storage yang berfungsi untuk tempat penyimpanan bahan baku ikan lemuru dan scomber. Perusahaan ini memiliki tiga cold storage dibagian depan dan belakang perusahaan. Di dalam satu cold storage terdiri dari sebuah ante room dan enam ruang holding freezer. Didalam satu ruang holding freezer mampu menampung enam kontainer, dengan berisi bahan baku ikan didalam satu kontainer sebanyak 28 ton ikan.
  1. Forklift
Forklift merupakan kendaraan bertenaga diesel yang digunakan untuk memindahkan karton-karton berisi produk setelah dikemas ke gudang penyimpanan dan pemindahan dari kontainer. Selain itu, forklift juga berfungsi membawa bahan baku seperti kaleng dan karton dari tempat yang telah ditentukan. Penggunaan forklift dilengkapi dengan pallet untuk meletakkan bahan atau produk sehingga mempermudah pemindahan.
4.4 Bahan Baku Produksi
Bahan baku yang dibutuhkan dalam pengalengan ikan terdiri dari dua jenis yaitu bahan utama dan bahan tambahan. Bahan utama merupakan bahan langsung (direct material), yaitu bahan yang membentuk suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dari produk jadi dan komponen penting dari suatu produk (Nafarin, 2007). Bahan utama untuk produksi pengalengan PT. LUWES Food Industries berupa ikan lemuru dan tembang yang akan diolah menjadi sarden kaleng dan ikan scomber menjadi makarel kaleng. Sedangkan untuk bahan tambahan merupakan bahan pelengkap yang melekat pada suatu produk. Bahan tambahan biasanya tidak mudah ditelusuri dalam suatu produk dan harganya relatif rendah dibandingkan dengan bahan utama (Nafarin, 2007). Bahan tambahan yang digunakan berupa pasta saus, Modified Corn Starch (MCS), garam dan air.
  1. Ikan Lemuru (Sardinella longiceps)
Bahan baku utama yang digunakan untuk produksi sarden kaleng adalah ikan lemuru dengan nama lokal ikan cekong dan ikan jui (nama lain ikan tembang). Ikan sarden yang digunakan tersebut berasal dari ikan lokal dan impor. Penggunaan ikan sarden lokal berbanding dengan ikan impor yaitu sebesar 10% : 90%. Penyebab banyaknya penggunaan ikan impor karena jumlahnya lebih banyak sehingga mampu memenuhi kebutuhan perusahaan dalam jangka waktu panjang sedangkan ikan lokal sangat terbatas jumlahnya sehingga stok ikan akan habis dalam satu hari produksi. Selain itu ikan impor lebih bersih, berbentuk beku (frozen) sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang panjang dibandingkan ikan lokal, serta ikan impor memiliki ukuran yang seragam sehingga memudahkan dalam proses pengolahan dengan kualitas mutu yang terjamin. Bahan utama ikan lemuru impor ini berasal dari negara India, China dan Pakistan dengan jumlah paling banyak dari China. Perusahaan supplier dari China yaitu Ningbo Tianyu Aquatic Import and Export Co. Ltd dan Xiamen Yuhong Import and Export Co. Ltd. Sedangkan ikan lokal berasal dari daerah SRAGEN, Tegal, Muncar dan Prigi.
Menurut KKP (2011), setiap ikan impor yang masuk ke Indonesia harus mendapat izin dari Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) dan wajib memenuhi standar keamanan dan mutu hasil perikanan oleh Badan Karantina Ikan (BKI) sekaligus diawasi oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Ikan lemuru dan scomber impor terlebih dahulu harus dilakukan karantina yang dilakukan oleh BKI Semarang selama kurang lebih lima hari. Ikan yang masih dalam pemeriksaan oleh BKI Semarang akan disegel dan tidak diperbolehkan untuk digunakan dalam proses produksi, selain itu di dalam internal perusahaan juga dilakukan kegiatan pengujian di dalam labolatorium perusahaan untuk memastikan ikan yang digunakan tidak berbahaya. Faktor yang menjadi perhatian pemeriksaan menurut SNI 01-4110.1-2006 yaitu tes organoleptik, kandungan formalin, bakteri E. coliVibrio choleraeSalmonella dan Parasit AnisakisTes organoleptik menggunakan score sheet ikan segar sesuai SNI 01-2729.1-2006 dan ikan beku sesuai SNI 01-4110.1-2006 (dapat dilihat pada Lampiran 4) yaitu minimal 7 serta dilakukan uji formalin dengan test kit, dimana tidak boleh ada kandungan formalin. Apabila ikan telah dinyatakan bebas dari kandungan formalin serta mikroorganisme berbahaya, maka ikan telah siap digunakan untuk produksi ikan kaleng.
Ikan impor dalam pengiriman di kontainer dan di dalam ruangan penyimpanan (cold storage) perusahaan ikan memiliki suhu ruangan -18°C, sesuai dengan SNI 3548.3:2010. Irving dan Sharp (1976) dalam Koswara (2009) mengatakan bahwa pada umumnya sebagian besar bahan pangan akan mempunyai mutu penyimpanan yang baik sekurang-kurangnya 12 bulan bila disimpan pada suhu -18°C. Bila suhu penyimpanan naik 3°C maka kecepatan kerusakan akan berlipat ganda. Namun pada saat kegiatan praktek lapang ini diketahui terdapat ikan yang datang disimpan dalam cold storage yang bersuhu -11°C. Hal ini dikarenakan dua tempat penyimpanan lainnya (bersuhu -18°C) telah penuh sehingga digunakanlah tempat penyimpanan lama yang bersuhu lebih tinggi. Menurut Koswara (2009) makanan yang disimpan pada suhu -15°C atau -12°C hanya akan memiliki daya simpan masing-masing enam bulan atau tiga bulan saja. Kondisi tersebut menyebabkan diterapkannya prinsip First Expired First Out (FEFO) yaitu ikan yang disimpan dalam tempat penyimpanan bersuhu -11°C harus digunakan terlebih dahulu.
  1. Pasta Saus
Pasta saus yang digunakan diimpor dari China dan dikemas dengan alumunium foil sebagai kemasan primer dan drum sebagai kemasan sekunder sehingga mempermudah transportasi. Keunggulan pasta saus dari China yaitu harga relatif lebih murah, penyediaan dapat dalam jumlah besar dan kontinyu, serta kualitasnya terjamin. Pemasok pasta saus dari China yaitu UrumQi Amkey Tarding Inc. dan Tianjin Won-Star Internasional Trade Co Ltd. Saus tomat tidak diberi perlakuan khusus saat akan digunakan. Pemeriksaan yang dilakukan pada saus hanya kadar gula, warna, flavour dan kekentalan saus yang disesuaikan dengan produk ikan kaleng yang akan dibuat. Biasanya untuk sarden kaleng digunakan tingkat kekentalan 28-30° Brix yang diukur dengan menggunakan Brix Meter. Dalam penyimpanannya, pasta saus ini diletakkan diatas pallet untuk menghindari bersentuhan langsung dengan lantai yang lembab.
  1. Modified Corn Starch (MCS)
Tepung jagung termodifikasi berfungsi sebagai penstabil pasta tomat sehingga diperoleh emulsi pasta tomat yang homogen dan stabil. MCS yang digunakan untuk sarden kaleng ini diimpor dari Thailand. MCS sebelum digunakan dalam proses produksi, terlebih dahulu dilihat keadaan barang tersebut sehingga menjamin kelayakan penggunaan bahan.
  1. Garam
Garam yang digunakan yaitu garam beryodium sesuai dengan SNI 3584.3:2010. Garam memiliki fungsi untuk menambah atau meningkatkan cita rasa dan memperpanjang masa simpan produk. Garam dipasok dari PD. Niaga Cirebon.
  1. Air
Air berfungsi sebagai pengencer pasta saus, yang dapat melarutkan MCS dan garam sehingga didapatkan kekentalan dan konsentrasi medium yang tepat. Air juga digunakan selama proses produksi seperti untuk thawing, pencucian, perendaman dan sanitasi ruang proses.
Air yang digunakan oleh PT. LUWES Food Industries berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan sumber air bersih yang dikelola langsung oleh PT. LUWES Food Industries yaitu sumur bor yang dilengkapi dengan pompa otomatis. Air akan ditampung dalam tangki air dengan daya tampung 6 ton air/tangki. Perusahaan ini memiliki daerah pengelolaan air (water treatment) yang terletak dibagian belakang perusahaan. Sebelum digunakan untuk produksi, dilakukan proses water treatment dengan menggunakan sand filtercarbon filter dan klorinasi untuk mengurangi kandungan zat berbahaya sehingga air dipastikan tidak terdapat bakteri maupun zat tertentu yang berbahaya. Selain dilakukan oleh laboratorium perusahaan, hasil pengujian air juga dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota SRAGEN.
  1. Es
Es merupakan bahan tambahan yang dibutuhkan untuk mengawetkan ikan segar yang dikirim oleh supplier. Ikan segar perlu ditambahkan es agar memiliki suhu sekitar 5°C sesuai dengan SNI 3548.3:2010 sehingga berdaya simpan lebih lama. Es yang digunakan oleh PT. LUWES Food Industries diperoleh dari KUD di SRAGEN yang memenuhi syarat SNI 01-4872.1-2006 dengan penanganan dan penyimpanan di tempat yang bersih untuk mencegah kontaminasi.
4.5 Bahan Pengemas
Bahan pengemas yang digunakan oleh PT. LUWES Food Industries terdiri dari kaleng sebagai pengemas primer dan karton sebagai pengemas sekunder.
  1. Kaleng
PT. LUWES Food Industries telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan produsen kaleng untuk menyuplai kebutuhan produksi. Kaleng yang digunakan berasal dari PTUnited Canned Company (UCC) Jakarta, PT. Ancol Terang Printing (ATP) Jakarta, PT. Cometa Jakarta dan PT. Sinar Jaya (SJ) Sidoarjo. Selain itu perusahaan juga bekerja sama dengan perusahaan PTKian Joo Can Factory Malaysia untuk membuat kaleng di area perusahaan PT. LUWES Food Industries. Kemasan kaleng tersebut ada yang telah berlabel dan ada pula yang belum berlabel, sesuai dengan permintaan PT. LUWES Food Industries. Kaleng yang belum berlabel merupakan produk pesanan yang dapat diberi merek oleh perusahaan pemesan atau diberi merek oleh PT. LUWES Food Industries namun berupa stiker pada permukaan kaleng.
Tabel 6. Jenis dan ukuran kaleng
Jenis Kaleng
Berat Bersih (gram)
Silinder (301 x 407)
425
Silinder (202 x 308)
155
Kotak (club can)
215
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
Keuntungan utama penggunaan kaleng sebagai wadah bahan pangan antara lain kaleng dapat menjaga bahan pangan yang ada di dalamnya. Makanan yang ada di dalam wadah yang tertutup secara hermetis dapat dijaga terhadap kontaminasi oleh mikroba, serangga atau bahan asing lain yang mungkin dapat menyebabkan kebusukan atau penyimpangan penampakan dan cita rasanya. Kaleng juga dapat menjaga bahan pangan terhadap perubahan kadar air yang tidak diinginkan. Selain itu, kaleng dapat menjaga bahan pangan terhadap penyerapan oksigen, gas-gas lain, bau-bauan dan partikel-partikel radioaktif yang terdapat di atmosfer. Untuk bahan pangan berwarna yang peka terhadap reaksi fotokimia, kaleng dapat menjaga terhadap cahaya (Astawan, 2005). 
  1. Karton
Karton berfungsi untuk mempermudah proses penyimpanan, mempermudah sistem pengangkutan atau pendistribusian bagi produsen, serta melindungi makanan dari kontaminasi, pengaruh sinar matahari, tahan terhadap tekanan dan benturan. Karton yang digunakan PT. LUWES Food Industries diperoleh dari PT. Puri Nusa Eka Persada, Semarang dengan pengiriman 3200 karton/kontainer. Kapasitas karton yang digunakan di PT. LUWES Food Industries dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Kapasitas karton
Jenis Kaleng
Kapasitas Kaleng
Silinder (301 x 407)
48 kaleng
Silinder (301 x 407)
24 kaleng
Silinder (202 x 308)
100 kaleng
Silinder (202 x 308)
50 kaleng
Kotak (Club Can)
48 kaleng
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
Pengemas sekunder ini dilengkapi dengan layer berupa karton yang dapat mencegah terjadinya gesekan antar kaleng. Pengemasan dalam karton juga dilengkapi dengan pita perekat agar karton menjadi lebih kuat. Bagian luar karton terdapat label merek produk, kode dan tanggal produksi.
4.6 Proses Pengalengan Ikan
Proses pengalengan ikan merupakan proses produksi inti yang dilakukan oleh PT. LUWES Food Industries karena ikan kaleng termasuk produk unggulan dan rutin diproduksi setiap bulannya. Astawan (2005) mengatakan, secara umum proses pengalengan ikan dalam skala industri melalui beberapa tahap. Tahapan itu meliputi pemilihan bahan baku, penyiangan, pencucian, penggaraman, pengisian bahan baku, pemasakan awal (precooking), penirisan, pengisian medium pengalengan, penghampaan udara, penutupan kaleng, pemasakan (retorting), pendinginan dan pemberian label. Untuk alur proses produksi pengalengan ikan di PT. LUWES Food Industries dapat dilihat pada Lampiran 5. Adapun tahapan pengalengan ikan PT. LUWES Food Industries terdiri dari :
4.6.1 Persiapan Bahan Baku
Bahan-bahan yang telah disimpan dalam gudang terlebih dahulu dikeluarkan dan dilihat kondisinya untuk memastikan masih dalam keadaan baik. Bahan-bahan yang digunakan biasanya disimpan antara 1-3 bulan di dalam gudang, namun perusahaan mengusahakan maksimal satu bulan tersimpan dan selanjutnya segera diproses untuk produksi. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas bahan-bahan tersebut. Bahan baku ikan, persiapan sebelum produksi dengan dikeluarkan dari cold storage dan diletakkan pada ante room yang memiliki suhu lebih tinggi.
Ikan-ikan harus disortasi sebelum digunakan dalam proses produksi. Ikan yang dinyatakan lolos yaitu ikan dengan kondisi utuh dan secara visual terlihat segar, digunakan untuk sarden atau makarel sebagai Grade 1. Ikan yang terlihat kurang segar dengan bagian tubuh yang terlihat cacat seperti terdapat sayatan pada bagian daging dijadikan sebagai Grade 2.
Gambar 5. Ikan diletakkan di ante room
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
      1. Pencairan (Thawing)
Thawing dilakukan agar lapisan es pada tubuh ikan dapat mencair sehingga ikan dapat diolah menjadi produk yang dikehendaki. Untuk mempercepat proses pencairan ikan, sebelum hari produksi terlebih dahulu ikan dimasukkan kedalam ante room yang bersuhu 5°C selama kurang lebih 24 jam. Fungsi ikan dimasukkan kedalam ante room agar ikan lebih cepat mencair karena suhu awal ikan mempengaruhi lamanya proses pencairan dalam metode thawing udara. Kemudian ikan melalui proses thawing udara dengan cara ikan dikeluarkan dari kotak ikan dan diletakkan pada meja-meja pemotongan dan keranjang plastik, ikan tersebut ditumpuk dan dihamparkan diatas meja, dibiarkan selama satu malam.
Bila pada keesokan harinya masih terdapat es dalam tubuh ikan maka proses thawing dapat dipercepat dengan menyiramkan air melalui pipa-pipa air disekitar meja pemotongan. Dengan metode ini, kualitas ikan tetap dalam keadaan baik. PT. LUWES Food Industries ini dalam proses thawing pernah mempergunakan metode thawing air tanpa metode thawing udara, namun hal tersebut dinilai tidak efektif, kulit ikan dapat ikut mengelupas karena terlalu lembek. Kualitas ikan dengan thawing air mengalami penurunan. Keuntungan thawing udara adalah rendahnya biaya yang digunakan. Hal ini sedikit berbeda dengan SNI 3548.3:2010 yang mengisyaratkan proses thawing dilakukan dengan cara thawing air hingga suhu ikan berada pada suhu 0°C -5°C.
Gambar 6. Proses thawing ikan
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
      1. Pemotongan dan Pengeluaran Isi Perut
Ikan lemuru yang akan diproses untuk dijadikan ikan sarden kaleng terlebih dahulu dipotong pada bagian belakang kepala dan mengeluarkan isi perut ikan, kemudian memotong bagian ekor. Hal tersebut telah sesuai dengan SNI 3548.3:2010 yang menyebutkan bahwa proses pemotongan dilakukan dengan cara membuang kepala, isi perut, sirip dan ekor ikan dengan mempertahankan suhu produk 0°C-5°C.
Ikan lemuru dikenal sebagai ikan yang memiliki jumlah sisik yang banyak maka ikan tersebut dimasukkan kedalam alat drum rotary washer untuk menghilangkan sisiknya. Ikan yang telah berukuran kecil tidak perlu pemotongan tubuhnya, namun bila ikan memiliki ukuran yang besar maka harus dipotong menjadi dua bagian. Pemotongan ini dilakukan secara manual dengan menggunakan pisau dan talenan. Ukuran ikan diusahakan seragam dan disesuaikan dengan ukuran kaleng pada produk tertentu.
Gambar 7. Proses pemotongan tubuh ikan
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.4 Pencucian 1 (Washing 1)
Ikan yang telah siap untuk dimasukkan ke dalam kaleng, terlebih dahulu dicuci dengan air bersih yang mengalir. Menurut Suryaningrum dkk (2012), proses pencucian ikan dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan darah, lendir, lemak dan kotoran lainnya. Karyawan yang bekerja dibagian ini diwajibkan mengenakan sarung tangan untuk menjaga kebersihan dan kesterilan bahan yang sedang diolah.
Gambar 8. Pencucian ikan
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.5 Pengisian (Filling)
Proses kegiatan berikutnya dilanjutkan dengan pengisian ikan kedalam kaleng. Banyaknya ikan yang dimasukkan harus disesuaikan dengan ukuran dan berat kaleng untuk suatu produk tertentu. Pengisian ikan di PT. LUWES Food Industries ini berdasarkan pada perasaan (feeling) dari karyawan sehingga hasilnya tidak selalu tepat sesuai berat yang seharusnya. Hal tersebut tidak sesuai dengan SNI 3548.3:2010 yang mengatakan bahwa ikan dimasukkan kedalam kaleng dan ditimbang secara cepat, cermat dan saniter. Pengisian daging ikan dalam kaleng dengan posisi yang berselang-seling antara bagian badan dengan ekor.
Gambar 9. Pengisian ikan pada kaleng
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.6 Cek Pengisian dan Cek Kebersihan
Untuk memastikan keakuratan pengisian yang dilakukan karyawan maka dilakukan pemeriksaan terhadap keranjang-keranjang setiap kelompok karyawan, pemeriksaan dilakukan dengan metode sampling. Dalam satu keranjang terdapat 12 kaleng dan dilakukan penimbangan setiap tiga kaleng. Kelemahan pengecekan dengan metode sampling adalah tidak semua kaleng dipastikan beratnya. Menurut Adawyah (2008), ketepatan berat merupakan faktor ekonomis, karena dapat mengurangi jumlah produk yang terbawa. Ketepatan berat sangat penting karena proses sterilisasi selanjutnya dipengaruhi oleh jumlah (volume/berat) produk dan juga akan menanamkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan.
Pada saat pemeriksaan pengisian dilakukan juga pemeriksaan kebersihan kaleng, apakah terdapat benda asing seperti pasir, isi perut yang masih ada, dan pernah ditemukan kasus ekstrim dengan penemuan senar di dalam kaleng. Apabila ditemukan adanya kasus seperti ini maka kelompok kerja tersebut akan dipanggil dan diberikan sanksi, hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas ikan kaleng.
Gambar 10. Cek pengisian dengan timbangan
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.7 Pemasakan Awal (Pre cooking)
Ikan yang berada di dalam kaleng selanjutnya dilakukan pemasakan awal atau dapat pula dikatakan proses penghampaan udara (exhausting) karena merupakan proses pengeluaran sebagian besar oksigen dan gas-gas lain dari dalam wadah agar tidak bereaksi dengan produk sehingga tidak mempengaruhi mutu, nilai gizi dan umur simpan produk kalengan (Muchtadi, 1994 dalam Utami, 2012). Selain itu menurut Adawyah (2008), exhausting berguna untuk memberikan ruangan bagi pengembangan produk selama proses sterilisasi sehingga kerusakan wadah akibat tekanan produk dari dalam dapat dihindarkan, juga berguna untuk menaikkan suhu produk di dalam wadah sampai mencapai suhu awal (initial temperature).
Proses exhausting di PT. LUWES Food Industries dilakukan selama 18-20 menit dengan suhu 90°C dan telah sesuai dengan SNI 3548.3:2010. Proses ini dapat digunakan untuk mempertahankan suhu didalam kaleng sehingga untuk proses sterilisasi dapat berjalan lebih efektif, mendapatkan tekstur yang sesuai, menginaktifkan enzim dan dapat membunuh mikroba lebih awal.
Gambar 11. Proses pemasukan kaleng pada exhaust box
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.8 Penirisan (Drying)
Penirisan dilakukan untuk mengeluarkan air dalam kaleng sisa dari pemanasan pre cooking. Sesuai SNI 3548.3:2010 kaleng diletakkan secara terbalik dengan cara conveyor yang membalik secara otomatis sehingga isi kaleng tidak ikut terbuang, dengan demikian air dapat ditiriskan. Air didalam kaleng perlu dibuang agar saus yang akan dimasukkan tidak mengalami perubahan rasa. Setelah itu kaleng akan kembali pada posisi semula untuk masuk ketahap berikutnya.
Gambar 12. Proses penirisan
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.9 Pengisian Medium (Filling Medium)
Setelah kaleng ditiriskan dari air, kemudian kaleng diisi dengan saus tomat. Medium pengalengan tersebut dapat memberikan cita rasa pada produk kaleng, dan juga berfungsi untuk mengurangi waktu sterilisasi, dengan cara meningkatkan proses perambatan panas serta dapat mengurangi korosi kaleng dengan cara menghilangkan udara (Adawyah, 2008) serta medium mampu mendapatkan derajat keasaman yang lebih tinggi (Astawan, 2005).
Saus tomat sebelum dimasukkan kedalam kaleng terlebih dahulu dicampur dengan bahan-bahan lain yang terdiri dari pasta saus ditambah dengan air, garam dan Modified Corn Starch (MCS). Bahan-bahan tersebut dimasak pada kuali dengan sistem uap hingga saus bersuhu 70°C. Kemudian dialirkan melalui pipa-pipa menuju ke pengisian kaleng dengan adanya katup pengeluaran saus yang dilengkapi dengan kran pembuka. Menurut SNI 01-2712.2-1992, suhu medium tidak boleh kurang dari 70°C, karena jika suhu medium semakin tinggi akan menyebabkan kondisi vakum semakin tinggi. Pada suhu yang tinggi peluang udara yang terperangkap diantara bagian produk dalam kaleng lebih kecil (Winarno, 1994 dalam Safitri, 2013).
Pengisian dilakukan dengan cara kaleng-kaleng berjalan pada belt conveyor kemudian secara otomatis kaleng terisi saus tomat. Pada saat pengisian, kaleng berada pada posisi tegak berdiri, kemudian kaleng akan dimiringkan dengan sudut kemiringan sebesar 95° untuk dapat membentuk head space pada kaleng. Besar head space untuk produk kaleng ini kurang lebih tiga milimeter. Fungsi head space adalah membentuk ruang kosong antara permukaan produk dengan tutup yang berfungsi sebagai ruang cadangan untuk pengembangan produk selama disterilisasi agar tidak menekan wadah karena dapat menyebabkan kaleng menjadi menggembung (Adawyah, 2008).
Gambar 13. Pengisian saus tomat
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
Head space yang terbentuk sebesar tiga milimeter kurang dari batas head space yang seharusnya yaitu tidak boleh kurang dari 0,25 inchi atau enam milimeter (Muchtadi, 1994 dalam Utami, 2012). Bila head space terlalu kecil akan menyebabkan kecepatan pemindahan panas menurun, sehingga waktu pengolahan menjadi lebih lama (Trianto dan Akbarsyah, 2007).
4.6.10 Penutupan Kaleng (Seaming)
Kaleng yang telah berisi ikan dan saus tomat kemudian melewati can seamer yang merupakan alat untuk menutup kaleng. Penutupan kaleng merupakan tahap pekerjaan yang sangat penting dalam pengalengan. Kaleng yang tidak rapat mengakibatkan terjadinya kontaminasi dan ada udara masuk yang dapat merusak makanan dalam kaleng. Usaha untuk mencegah kebocoran kaleng, maka kaleng ditutup secara ganda lipatan dan pada sambungannya dilapisi dengan senyawa semen atau lacquer bercampur karet (Adawyah, 2008). Produk yang tidak berhasil pada penutupan kaleng bila telah melewati sterilisasi atau pendinginan maka produk akan dibuang dan dijadikan tepung ikan, sedangkan bila produk tersebut telah diketahui saat selesai penutupan maka dapat dilakukan repacking.
Gambar 14. Penutupan kaleng
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.11 Pencucian 2 (Washing 2)
Kaleng yang telah melewati can seamer secara otomatis akan bergerak ke tempat pencucian kaleng. Mesin pencuci kaleng dilengkapi dengan pipa-pipa berlubang yang terdapat air sabun dan sikat. Pencucian kaleng ini bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa saus yang masih melekat pada kaleng. Pencucian dilakukan dengan menggunakan air pencuci bersuhu 70°C kemudian dialirkan melalui pipa-pipa pencuci. Sedangkan untuk sabun pencuci, PT. LUWES Food Industries selalu menggunakan merek Mama Lime sebagai anti bakterial. Kaleng-kaleng yang akan dicuci diletakkan secara horisontal untuk mempermudah pencucian dan masuk ke mesin pencuci. Setelah proses pencucian selesai, kaleng secara otomatis masuk ke bak air yang telah terdapat basket untuk menampung kaleng dan siap masuk ke proses sterilisasi.
Gambar 15. Pencucian kaleng
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.12 Sterilisasi
Sterilisasi adalah metode dasar dalam pengawetan ikan dengan teknik pengalengan (Adawyah, 2008). Kaleng yang telah dikeluarkan dari bak air dari proses pencucian kemudian dimasukkan kedalam mesin retort horizontal untuk dilakukan proses sterilisasi. Proses ini merupakan bagian yang penting dalam proses pengalengan karena sterilisasi tidak hanya bertujuan untuk menghancurkan mikroba pembusuk dan patogen, tetapi juga berguna untuk membuat produk menjadi cukup masak, yaitu dilihat dari penampilannya, teksturnya dan cita rasa sesuai yang diinginkan (Muchtadi, 1994 dalam Utami, 2012).
Sterilisasi dilakukan pada suhu 117°C dan tekanan 0,70-0,80 kg/cm2 dengan waktu yang berbeda bergantung pada besar kecilnya ukuran kaleng. Untuk kaleng yang berukuran besar (kaleng tipe 301) sterilisasi dilakukan selama 90 menit, sedangkan untuk kaleng kecil (kaleng tipe 202) selama 80 menit. Pada proses ini diusahakan mencapai suhu 117°C tersebut, karena bila suhu tidak tercapai, produk tersebut akan dinilai gagal dan perlu diulang kembali.
Diantara bakteri-bakteri yang berhubungan dengan pengalengan ikan, Clostridium botulinum adalah yang paling berbahaya. Bakteri tersebut dapat menghasilkan racun botulin dan membentuk spora yang tahan panas. Pemanasan selama empat menit pada suhu 120°C atau 10 menit pada suhu 115°C sudah cukup untuk membunuh semua strain C. botulinum (A-C). Karena sifatnya yang tahan panas, jika proses pengalengan dilakukan secara tidak benar, bakteri tersebut dapat aktif kembali selama penyimpanan. Selain itu, ikan termasuk ke dalam makanan golongan berasam rendah, yaitu mempunyai kisaran pH 5,6-6,5. Adanya medium pengalengan dapat meningkatkan derajat keasaman (menurunkan pH), sehingga produk dalam kaleng menjadi awet. Pada tingkat keasaman yang tinggi, Clostridium botulinum tidak dapat tumbuh (Astawan, 2005).
Gambar 16. Kaleng dimasukkan kedalam retort
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.13 Pendinginan (Cooling)
Kaleng yang selesai disterilisasi kemudian dilakukan pendinginan dalam retort sampai suhunya turun menjadi 35-40°C, dengan menyemprotkan air selama 20 menit sesuai dengan SNI 3548.3:2010. Penyemprotan bertujuan untuk mencegah terjadinya over cooking atau over processing. Kemudian pendinginan dilanjutkan di bak pendingin pada air biasa (suhu 20°C) selama 15-20 menit dengan keadaan kaleng masih berada didalam basket, yang dipindahkan dari retort dengan bantuan katrol. Kemudian basket diangkat dari bak air dan ditiriskan.
Wadah harus cepat didinginkan segera setelah proses sterilisasi selesai, dengan tujuan untuk memperoleh keseragaman (waktu dan suhu) dalam proses dan untuk mempertahankan mutu produk akhir. Selama produk berada pada suhu antara suhu ruang dan suhu proses, pertumbuhan spora bakteri tahan panas akan distimulir dan bakteri yang masih bertahan hidup mengalami shock sehingga akan mati (Adawyah, 2008). Pendinginan dilakukan sampai suhunya sedikit diatas suhu kamar, maksudnya agar air yang menempel pada dinding wadah cepat menguap, sehingga terjadinya karat dapat dicegah (Trianto dan Akbarsyah, 2007).
Gambar 17. Kaleng pada bak pendingin
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.14 Inkubasi
Kaleng yang telah ditiriskan kemudian dimasukkan kedalam gudang labelling untuk diinkubasi selama satu minggu pada suhu ruang (28-30°C) dengan keadaan masih di dalam basket. Berbeda dengan SNI 3548.3:2010 yang menyatakan bahwa inkubasi dilakukan selama dua minggu pada suhu ruang dalam posisi terbalik. Tujuan inkubasi adalah untuk mengontrol kualitas produk yang telah dihasilkan, bila masih terdapat adanya Clostridium sp. dalam kaleng maka kemasan kaleng akan terlihat menggelembung. Bila setelah diinkubasi kaleng tetap dalam keadaan baik maka produk dinilai aman dan siap untuk dipasarkan.

Gambar 18. Kaleng diinkubasi pada ruang pengemasan
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.15 Pemberian Label dan Pengemasan (Labelling and Packing)
Produk yang tidak mengalami perubahan selama masa inkubasi, sebelum dikemas dalam karton terlebih dahulu diberi tanggal kadaluarsa dan kode produksi. Tujuan labelling ini menurut Hudaya (2008), perlu dilakukan untuk memudahkan pemeriksaan jika ada suatu kerusakan atau kelainan yang terjadi pada produk akhir yang dihasilkan. Dengan demikian dapat diminimalisir kerusakan yang sama bila kerusakan tersebut disebabkan kesalahan pabrik. Adanya tanggal kadaluarsa dapat diketahui batas waktu kapan produk tersebut dapat dikonsumsi dan tidak membahayakan untuk kosumen.
Labelling menggunakan mesin pencetak kode otomatis dengan cara kaleng-kaleng dikeluarkan dari keranjang besi secara manual dan dilewatkan belt conveyor menuju ke mesin tersebut. Sebelum masuk ke mesin pencetak, tutup kaleng yang lewat dibersihkan dengan lap bersih dan dilakukan sortasi bila ditemukan kaleng-kaleng yang rusak seperti penyok. Bila kaleng tersebut masih dapat diperbaharui maka produk tersebut akan dikemas ulang, sedangkan untuk kaleng yang rusak fatal seperti ikannya rusak maka kaleng akan dibuka dan isinya dibuang ke bagian limbah untuk dijadikan tepung ikan. Berikut contoh pemberian kode pada produk kaleng :
Gambar 19. Labelling
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
Keterangan kode produksi :
MFI : nama perusahaan (PT. LUWES Food Industries)
AT : supplier kaleng (PT. Ancol Terang)
L : jenis ikan (Lemuru)
02/03 : nomor retort/masakan ke-
04 OCT 2015 : tanggal kadaluarsa 04 Oktober 2015 dan tanggal produksi 04
Oktober 2012

Setelah kaleng ikan diberi label, kaleng dimasukkan kedalam karton sehingga mempermudah dalam pengangkutan dan pengiriman. Kaleng dimasukkan kedalam karton dengan jumlah sesuai kapasitas karton dan disusun dengan rapi agar tidak merusak kaleng. Cara pengepakan kaleng sarden ini yaitu memasukkan kaleng dengan tutup dibagian atas. Pada bagian luar karton juga diberikan label sama seperti pada kemasan kaleng didalamnya.
Gambar 20. Proses labelling dan pengemasan
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)
4.6.16 Penyimpanan (Storage)
Penyimpanan merupakan kegiatan akhir sebelum pendistribusian produk baik ke pemesan maupun ke konsumen. Proses penyimpanan ini dilakukan di dalam gudang yang diusahakan selalu kering dan tidak terkena cahaya matahari langsung. Karton-karton tersebut diletakkan di atas pallet untuk menghindari kontak langsung antara karton dengan lantai gudang. Karton seharusnya ditumpuk sebanyak delapan susun karton, namun dalam pelaksanaan teknisnya di gudang PT. LUWES Food Industries karton tersebut ditumpuk sebanyak sepuluh susun karena kapasitas gudang kurang mencukupi bila diterapkan delapan susun.
Telah dilakukan percobaan terlebih dahulu dan diketahui hingga tumpukan kesepuluh, kaleng dan karton belum mengalami kerusakan. Apabila produk ini akan dipasarkan maka menggunakan sistem First In First Out (FIFO). Produk yang pertama kali masuk akan dipasarkan terlebih dahulu, secara otomatis produk yang kadaluarsa dahulu akan dipasarkan lebih awal. Daya simpan dari produk yang dihasilkan ini rata-rata selama tiga tahun.
Gambar 21. Penyimpanan produk
Sumber : PT. LUWES Food Industries (2014)

Satu hal yang harus diingat adalah bahwa pemanasan tidak dapat membunuh semua mikroba, khususnya thermofilik (tahan terhadap panas). Mikroba tahan panas tersebut tidak akan tumbuh pada kondisi penyimpanan yang normal. Apabila penyimpanan dilakukan pada ruang yang bersuhu cukup tinggi atau terkena cahaya matahari langsung, mikroba tahan panas tersebut akan aktif kembali dan merusak produk. Penyimpanan produk harus dilakukan pada suhu yang cukup rendah, seperti pada suhu kamar normal dengan kelembaban rendah. Akan menjadi lebih baik lagi bila disimpan pada lemari pendingin. Kondisi penyimpanan sangat berpengaruh terhadap mutu ikan dalam kaleng. Suhu yang terlalu tinggi dapat meningkatkan kerusakan cita rasa, warna, tekstur dan vitamin yang dikandung oleh bahan akibat terjadinya reaksi-reaksi kimia (Astawan, 2005). Hudaya (2008), menambahkan bahwa suhu penyimpanan yang dapat mempertahankan kualitas bahan yang disimpan adalah 15°C.
4.7 Analisis Usaha
Analisis usaha sangat diperlukan pada setiap usaha termasuk kegiatan pengalengan ikan, dengan tujuan agar dapat memperoleh gambaran tentang besarnya keuntungan usaha tersebut. Dalam usaha berskala besar seperti PT. LUWES Food Industries, banyak faktor yang mempengaruhi besar keuntungan. Salah satu yang menjadi faktor penting yaitu modal usaha, hal ini karena perusahaan membutuhkan alat-alat yang relatif canggih dan berharga mahal, jumlah karyawan yang relatif tidak sedikit, serta bahan baku yang berkualitas dan sebagian besar impor. Pada kegiatan praktek lapang ini tidak diperbolehkan mengetahui analisis yang dilakukan oleh marketing karena merupakan rahasia perusahaan, maka dilakukan perkiraan analisis usaha secara mandiri.
Keuntungan usaha pengalengan ikan PT. LUWES Food Industries ini sebesar Rp. 9.221.565.000,00. Keuntungan ini diketahui setelah penerimaan hasil penjualan produk dikurangi dengan harga pokok, biaya pemasaran dan biaya umum. Sedangkan untuk nilai Return cost ratio (R/C) yaitu nilai yang diperoleh dari penerimaan penjualan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses produksi hingga menghasilkan produk. Suatu usaha menguntungkan apabila nilai R/C > 1. Semakin besar nilai R/C maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang diperoleh dari usaha (Soepranianondo dkk, 2013). R/C usaha pengalengan ikan ini sebesar 7,78 sehingga dapat dikatakan usaha ini sangat menguntungkan.
Analisis usaha juga berkenaan mengenai titik impas atau Break Event Point (BEP), yaitu untuk mengetahui pada tingkat produksi dan harga berapa suatu usaha tidak memberikan keuntungan dan tidak pula mengalami kerugian (Soepranianondo dkk, 2013). Produk sarden kaleng pada PT. LUWES Food Industries ini diketahui mencapai titik BEP produksi saat perusahaan memproduksi 115.697 kaleng per bulan dan menjualnya pada harga Rp. 1.200,00. Dengan hasil produksi perusahaan sebanyak 14.000 karton atau 1.166.000 kaleng yang terdiri dari kaleng berukuran kecil dan besar, serta harga jual kaleng kecil Rp. 7.500,00 dan kaleng besar Rp. 16.000,00 maka perusahaan mendapatkan keuntungan yang besar. Perhitungan analisis usaha berdasarkan pada biaya investasi, biaya tetap dan biaya variabel terdapat pada Lampiran 6.

    1. Hambatan dan Pengembangan Usaha
4.8.1 Hambatan Usaha
Dalam kegiatan produksi pengalengan ikan sarden ini diketahui terdapat beberapa kendala yang ditemui antara lain bahan baku ikan lemuru yang sulit diperoleh baik ikan lokal maupun ikan impor. Hal ini dikarenakan ikan lemuru ini bersifat musiman sehingga stoknya terbatas pada saat tertentu. Akibat dari stok ikan yang terbatas ini, produksi pengalengan tidak selalu beroperasi disamping karena faktor pesanan untuk produk tertentu. Mengatasi hal tersebut, perusahaan menyiasati untuk memasok bahan baku dalam jumlah yang besar pada saat stok ikan melimpah sehingga untuk satu kali produksi mampu memenuhi permintaan pasar dalam jangka waktu lama.
Kendala lain dihadapi pada waktu kegiatan produksi, mesin can seamer pada waktu beroperasi kurang tepat dalam penutupan sehingga perlu diperbaiki oleh mekanik saat produksi tengah berlangsung yang berakibat kegiatan produksi berjalan lebih lambat. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan perawatan berkala meski kendala teknis tersebut masih sering terjadi.
Kendala non teknis yaitu bencana banjir yang terjadi pada saat praktek lapang dilakukan. Air banjir masuk ke dalam gudang penyimpanan produk jadi yang berakibat terendamnya kaleng-kaleng pada bagian bawah. Kaleng yang terkena air banjir tersebut dikhawatirkan berkarat sehingga untuk mencegah hal tersebut kaleng di gudang disortir, kaleng yang terkena air banjir segera dicuci kembali kemudian diinkubasi, apabila masih baik akan kembali dikemas dalam karton. Upaya lain yang dilakukan yaitu gudang penyimpanan ditinggikan dan sebagian produk dipindahkan ke gedung penyimpanan lain yang aman dari jangkauan banjir untuk sementara waktu.
4.7.2 Pengembangan Usaha
PT. LUWES Food Industries tidak hanya menghasilkan produk sarden dan makarel kaleng namun dapat juga membuat bakso ikan, otak-otak, fish stick, scallops, kepiting kaleng dan masih banyak lainnya. Proses pembuatan produk tersebut berdasarkan pesanan dari buyers yakni perusahaan lain. Hal ini merupakan bentuk pengembangan usaha yang dilakukan PT. LUWES Food Industries untuk meningkatkan volume penjualan melalui produk berbeda jenis dengan pangsa pasar yang berbeda pula.
Kemasan primer produk, PT. LUWES Food Industries direncanakan menggunakan kaleng dari aluminium dan tutup jenis Easy Open End (EOE). Kaleng yang terbuat dari alumunium memiliki keunggulan lebih ringan dibandingkan kaleng dari metal, lebih tahan karat dan mudah dibuka, namun kelemahannya kaleng jenis ini mudah mengalami penyok dalam penanganannya. Saat ini PT. LUWES Food Industries belum menggunakan kaleng jenis ini pada produk yang dihasilkan, masih sebatas rencana bagian produksi. Sedangkan tutup jenis EOE ini mulai dilakukan pada produk bertipe kaleng club can, merek Ranesa Merah dan Sesibon Balado sebagai produk percobaan untuk melihat reaksi konsumen. Tutup EOE ini mudah dibuka bila dibandingkan tutup biasa yang memerlukan alat untuk membuka kaleng. Dengan strategi demikian, diharapkan jumlah permintaan konsumen kian meningkat disamping tetap menjaga kualitas produk yang dihasilkan.




Populer