Kesimpulan

SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Simpulan yang dapat diperoleh dari kegiatan praktek kerja lapang ini antara lain :
  1. Teknik pengalengan ikan yang dilakukan oleh PT. LUWES Food Industries dimulai dari proses penerimaan bahan baku dan pengujian kelayakan, persiapan bahan baku, thawing, pemotongan dan pengeluaran isi perut, pencucian 1, pengisian ikan kedalam kaleng, cek pengisian dan kebersihan, pre cooking, penirisan, pengisian medium, penutupan kaleng, pencucian 2, sterilisasi, pendinginan, inkubasi, labelling dan pengemasan, serta penyimpanan hingga produk siap dipasarkan ke konsumen. Pemasakan awal (pre cooking) dilakukan selama 20 menit pada suhu 90°C. Pengisian saus tomat sebagai medium pengalengan hingga membentuk head space sebesar 3 mm dengan kekentalan saus 28-30° Brix. Proses sterilisasi pada suhu 117°C dan tekanan 0,70-0,80 kg/cm2 dalam waktu 80-90 menit. Dan kaleng siap dikemas setelah melalui masa inkubasi selama satu minggu dan dilakukan labelling pada permukaan tutup kaleng.
  2. PT. LUWES Food Industries menerapkan sistem organisasi berbentuk garis dengan kekuasaan dan tanggung jawab mengalir langsung secara vertikal dari managing director sampai pada setiap orang yang berada pada jabatan terendah, hal tersebut untuk mengefektifkan kerja dimasing-masing departemen. Perusahaan merupakan organisasi padat karya karena membutuhkan sumber daya manusia dalam jumlah banyak, namun diketahui pula jumlah karyawan tidak selalu sama setiap tahun terutama karyawan musiman dan borongan. Hal ini disesuaikan dengan tingkat kebutuhan perusahaan terhadap banyaknya karyawan dalam mendukung kegiatan produksi dan banyaknya pesanan produk dari pemesan.
  3. Permasalahan yang ditemui pada proses pengalengan ikan di PT. LUWES Food Industries yaitu ketersediaan stok ikan lemuru yang bersifat musiman. Hal ini mengakibatkan proses produksi tidak berjalan rutin. Selain itu mesin yang mengalami gangguan ditengah kegiatan produksi serta bencana banjir yang menyebabkan kaleng rawan berkarat.
5.2 Saran
Adapun saran yang disampaikan kepada PT. LUWES Food Industries ini meliputi :
  1. Pada saat proses thawing ikan berjalan relatif lama, hal ini karena suhu ikan saat penyimpanan mencapai -18°C sehingga membutuhkan waktu lama. Mengatasi hal tersebut, dapat dilakukan thawing dengan menggunakan air hangat dengan suhu air yang tidak terlalu tinggi sehingga mampu mempercepat pencairan dan ikan lebih cepat diolah untuk produksi.
  2. Terkait pasokan bahan baku ikan yang tidak selalu ada dan tidak menjamin kelangsungan produksi setiap bulannya maka disarankan PT. LUWES Food Industries mencari supplier tambahan untuk memasok bahan baku ikan terutama lemuru sehingga tidak bergantung pada supplier tetap.
  3. Peralatan yang digunakan dalam proses pemotongan ikan yaitu pisau dinilai karyawan tidak cukup tajam dan menghambat proses pemotongan, maka diperlukan tenaga kerja yang bertugas untuk mengasah pisau saat perusahaan tidak produksi sehingga pisau dapat mengefektifkan kerja karyawan.
  4. Mesin can seamer perlu diperiksa secara rutin terutama sebelum proses produksi dimulai, hal ini dikarenakan salah satu can seamer sering mengalami gangguan saat proses produksi sedang berlangsung.



Populer