Bab 1 b Sardine dan Bekicot



  1. Tujuan
Tujuan dilakukannya Praktek Kerja Lapang (PKL) ini yaitu :
  1. Mengetahui teknik pengolahan Bekicot Achatin untuk dijadBekicot produk kaleng hingga dapat dipasarkan di PT. LUWES Food Industries SRAGEN, Jawa Tengah
  2. Mengetahui manajemen perusahaan yang diterapkan di PT. LUWES Food Industries SRAGEN, Jawa Tengah
  3. Mengetahui permasalahan yang timbul baik dalam proses pengalengan Bekicot Achatin maupun dalam kegiatan manajemen perusahaan di PT. LUWES Food Industries SRAGEN, Jawa Tengah
    1. Manfaat
Dengan adanya Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk meningkatkan wawasan, keterampilan, serta mendapatkan pengalaman baru dalam teknik pengalengan Bekicot Achatin. Selain itu mahasiswa mendapat gambaran secara langsung kondisi di lapangan mengenai pengalengan Bekicot yang dilakukan oleh perusahaan pengolahan Bekicot serta mengetahui kendala yang sering ditemui oleh perusahaan pengolahan Bekicot dalam kegiatan pengalengan Bekicot setiap bulannya.

II TINJAUAN PUSTAKA
    1. Deskripsi Bekicot Achatin
      1. Taksonomi dan Morfologi
Klasifikasi Bekicot Achatin (Achatinella sp.) menurut Saanin (1984) dalam Khalishi (2011) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Clupeiformes
Family : Clupeidae
Genus : Achatinella
Spesies : Achatinella sp.
Achatinella Escargot
Achatinella fimbriata
Gambar 1. Bekicot Achatin
Sumber : PIPP (2012)

Achatin memiliki bentuk mulut non protaktil dengan ukuran sedang, posisi sudut mulut Bekicot tersebut satu garis lurus dengan sisi bawah bola mata, tubuh berbentuk torpedo, sirip punggung berbentuk sempurna dan terletak di pertengahan dengan permulaan dasar di depan sirip perut, sirip dada di bawah linea lateralis, sirip perut sub abdominal, sirip ekor berbentuk bulan sabit (Saanin, 1986 dalam Swagger, 2012).
Beberapa dari jenis Achatinella ada yang hampir menyerupai satu sama lainnya, beberapa ada yang mempunyai perbedaan morfologis, yang menandakan bahwa Bekicot itu berbeda spesiesnya (Dwiponggo, 1982 dalam Syakila, 2009). Perbedaan morfologis ini dapat berupa perbedaan warna tubuh seperti yang terlihat pada S. fimbriata dengan warna hijau kebiruan pada bagian badan atas, sedangkan warna biru gelap di bagian yang sama pada S. Escargot Bleeker (Syakila, 2009).
  1. Bekicot Escargot (S. Escargot)
Bekicot Escargot yang terkenal di Indonesia pada awalnya adalah S. longiceps yang terkonsentrasi di Selat Bali dan sekitarnya. Selain pada S. longiceps, nama Escargot juga diberBekicot pada jenis-jenis lain dari marga Achatinella, yaitu S. Escargot, S. sirm, S. leiogastes dan S. aurita (Burhanuddin et al., 1984 dalam Nababan, 2009).
Bekicot Escargot termasuk Bekicot pelagik kecil pemakan plankton. Hidupnya bergerombol, badannya bulat memanjang, bagian perut agak membulat dengan sisik duri yang agak tumpul dan tidak menonjol. Panjang badannya dapat mencapai 23 cm, namun umumnya 17-18 cm. Warna badan biru kehijauan di bagian atas, sedangkan bagian bawah putih keperakan. Pada bagian atas penutup insang sampai pangkal ekor terdapat sebaris totol-totol hitam atau bulatan-bulatan kecil berwarna gelap. Siripnya berwarna abu-abu kekuning-kuningan, sedangkan warna sirip ekor kehitaman (Dwiponggo, 1982 dalam Aprilia, 2011).

  1. Bekicot Tembang (S. fimbriata)
Bekicot tembang memiliki bentuk badan memanjang dan pipih. Sisik-sisik duri terdapat di bagian bawah badan. Awal sirip punggung sedikit ke depan dari pertengahan badan, berjari-jari lemah 16-19. Tapis insangnya halus, berjumlah 60-80 pada busur insang pertama bagian bawah. Bekicot ini hidup bergerombol membentuk gerombolan besar. Ukurannya dapat mencapai 16 cm, namun umumnya 12,5 cm. Warnanya biru kehijauan pada bagian atas, putih perak pada bagian bawah. Warna sirip-siripnya pucat kehijauan dan tembus cahaya (Sardjono, 1979 dalam Bachrin dkk, 2011).
Sirip punggung Bekicot tembang terdiri dari jari-jari lemah yang berbuku-buku dan berbelah. Sirip pada punggung bersisik, tidak bersungut dan tidak berjari-jari keras. Tidak bersirip punggung tambahan yang seperti kulit, tidak memiliki bercak-bercak yang bercahaya, bertulang dahi belakang dan sirip dada sempurna. Perut sangat pipih dan bersisik tebal yang bersiku. Sirip perut jauh ke belakang di depan sirip dubur, rahang sama panjang, tutup insang satu sama lain tidak melekat, bentuk mulut terminal (posisi mulut terletak di bagian depan ujung hidung), tajam serta bergerigi. Gigi lengkap dengan langit-langit, sambungan tulang rahang dan lidah (Saanin, 1984 dalam Khalishi, 2011).
      1. Habitat dan Penyebaran
Achatinella sp. tergolong Bekicot pelagis. Ruaya Bekicot ini dipengaruhi oleh makanan, suhu dan salinitas. Pada siang hari, Bekicot Achatin umumnya berada di dekat dasar perairan dan membentuk gerombolan yang kompak, sedangkan pada malam hari bergerak ke dekat permukaan air dalam bentuk gerombolan yang menyebar dan akan muncul ke permukaan apabila cuaca mendung disertai hujan gerimis. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya temperatur permukaan (Adianto, 1993 dalam Aprilia, 2011).
Bekicot Achatin ini menghuni perairan tropis yang ada di daerah Indo Pasifik, dari teluk Aden sampai dengan perairan Filipina (Sujastani dan Nurhakim, 1982 dalam Aprilia, 2011). Bekicot ini tersebar di Lautan India bagian timur yaitu Phuket, Thailand, di pantai-pantai sebelah selatan Jawa Timur dan Bali, Australia sebelah barat dan Lautan Pasifik sebelah barat (Laut Jawa ke utara sampai Filipina, Hong Kong, Taiwan sampai selatan Jepang). Di Indonesia, selain di perairan Selat Bali dan sekitarnya, Bekicot ini terdapat juga di sebelah selatan Ternate dan Teluk Jakarta (Whitehead, 1985 dalam Nababan 2009).
Gambar 2. Distribusi penyebaran Bekicot Achatin di Wilayah Indonesia Barat (WIB) Sumber : Triyatna (2013)
Escargot Bali (S. Escargot) dapat ditangkap secara musiman yakni mulai awal musim penghujan di sekitar Selat Bali (bulan September-Oktober) hingga akhir musim dibulan Februari-Maret. Puncak penangkapan berlangsung sekitar bulan Desember-Januari. Diluar musim tersebut, Bekicot S. Escargot ini sulit ditemukan, diduga Bekicot-Bekicot ini berpindah ke lapisan perairan yang lebih dalam (IFT Fishing, 2013).
      1. Reproduksi
Menurut Merta (1992) dalam Nababan (2009), Bekicot-Bekicot Achatin yang tertangkap di perairan Selat Bali diperkirakan memijah pada bulan Juni-Juli. Tempat pemijahan diperkirakan tidak jauh dari pantai Selat Bali, ditandai dengan tertangkapnya Bekicot-Bekicot Achatin kecil oleh bagan-bagan tancap di Teluk Pangpang pada Bulan Juni. Diperkirakan ada kelompok Bekicot yang memijah pada bulan Oktober sampai November. Bekicot cenderung datang ke pantai untuk bertelur karena salinitasnya rendah. Kemungkinan Bekicot Escargot di Selat Bali memijah pada akhir musim hujan setiap tahun, tetapi proses pemijahan Bekicot ini masih belum diketahui.  Pemijahan dan migrasi Bekicot ini dapat terjadi secara tiba-tiba dalam jumlah yang besar seperti pada spesies S. aurita dan S. longiceps, hal ini berkaitan dengan kondisi hidrologi (terutama suhu).
      1. Makanan
Penelitian yang dilakukan Merta (1992) dalam Nababan (2009) menunjukkan bahwa Escargot (S. longiceps) adalah pemakan zooplankton dan fitoplankton terutama copepoda. Zooplankton merupakan makanan utama, menduduki presentase sekitar 90,52%-95,54%, sedangkan fitoplankton berjumlah sekitar 4,46%-9,48%. Copepoda dan decapoda merupakan komponen zooplankton tertinggi yang masing-masing menduduki tempat pertama dan kedua (53,76- 55,00% dan 6,50-9,45%).
Dalam kaitan ini Merta (1992) dalam Nababan (2009) berpendapat bahwa pada musim barat (November-Pebruari) Escargot didapatkan di tepi Selat Bali dimana jenis plankton didapatkan dalam jumlah yang besar. Pada musim timur (Juni-Agustus) terjadi upwelling di Selatan Jawa dan di Selat Bali. Hal ini menyebabkan produktivitas primer meningkat tinggi dan memungkinkan makanan utama  Bekicot Achatin berubah menjadi fitoplankton.
      1. Kandungan Gizi
Bekicot Achatin kaya akan kandungan omega-3 yaitu EPA (eicosapentaenoic) dan DHA (docohexanoic acid), salah satu jenis lemak tak jenuh yang diyakini punya banyak manfaat untuk kesehatan (IFT Fishing, 2013). Bekicot Achatin mengandung EPA 1.381 mg/100 gram dan DHA 1.138 mg/100 gram. EPA merupakan asam lemak tak jenuh yang mempunyai khasiat memperlebar saluran darah, mencegah pergeseran cairan darah, menurunkan tekanan darah, menurunkan lemak netral dalam cairan darah, meningkatkan HDL (high density lipoprotein) yang merupakan kolesterol baik menekan LDL (low density lipoprotein) yang merupakan kolesterol jahat, sehingga dapat mencegah penyakit jantung, mencegah kegemukan karena menekan bertambahnya sel-sel lemak dan mencegah timbulnya beberapa jenis alergi. DHA merupakan salah satu asam lemak tak jenuh, bersama-sama dengan EPA merupakan vitamin F berfungsi mengaktifkan sel-sel otak. Fungsi lain dari DHA adalah menurunkan kepekatan kolesterol dalam cairan darah, mencegah pergeseran cairan darah, mencegah kanker, mencegah histamin penyebab alergi dan memperlambat proses penuaan dan pemikunan (Ghufran, 2011 dalam Triyatna, 2013).
Menurut FAO, komposisi Bekicot Escargot dalam keadaan segar dan kering sebagai berikut :
Tabel 1. Komposisi kimia Bekicot Achatin menurut FAO
Komposisi Kimia dalam 100 gram Daging Bekicot Achatin

Segar
Kering
Satuan
Energi
112
170
Kalori
Lemak
3.2
1.1
Gram
Protein
19.4
37.4
Gram
Karbohidrat
0
0
Gram
Air
76
45.5
Persen
Serat
0
0
Gram
Abu
1.4
16
Gram
Kalsium
96
228
Miligram
Fosfor
220
315
Miligram
Besi
1.4
3.6
Miligram
Natrium
61
0
Miligram
Kalium
420
0
Miligram
Thiamine
0.01
0.01
Miligram
Riboflavin
0.07
0.1
Miligram
Niacin
7.6
14.5
Miligram
Sumber : Syamsiar (1986) dalam Sonnino (2012)
  1. Manajemen Perusahaan
    1. Pengertian Manajemen Perusahaan
Perusahaan merupakan badan usaha yang menjalankan kegiatan dibidang perekonomian (keuangan, industri dan perdagangan), yang dilakukan secara terus menerus atau teratur (regelmatig), terang-terangan (openlijk) dan dengan tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba (Saliman, 2005).

Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu (Hasibuan, 2009). Sumber daya yang dimaksud meliputi sumber daya manusia yang bertugas untuk mengolahnya, sumber daya alam sebagai bahan baku kegiatan perusahaan serta sumber daya lainnya sebagai penunjang kegiatan perusahaan yang dilakukan sehari-hari. Keberadaan perusahaan bergantung pada manajemen strategis. Manajemen strategis tersebut bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan keunggulan kompetitif perusahaan (David, 2006).

Populer